Pages

Selasa, 30 September 2014

10 Aturan Menggunakan Hashi (sumpit)

Di Jepang Masyarakat Jepang merupakan masyarakat yang lebih banyak menggunakan sumpit ketika makan. Jika Anda berencana untuk berlibur ke Jepang, ada baiknya Anda belajar menggunakan sumpit terlebih dahulu jika sebelumnya Anda tidak terbiasa menggunakan sumpit. Ketika Anda makan dengan orang Jepang, mereka mungkin akan mengerti dan akan memaafkan Anda jika Anda melakukan beberapa kecerobohan. Tapi tentu tidak ada salahnya untuk memperhatikan beberapa aturan-aturan penggunakan sumpit di Jepang, bahkan bagi orang yang sudah terbiasa menggunakan sumpit. Berikut adalah 10 cara atau aturan atau sopan santun dalam menggunakan sumpit di Jepang :
1.Pegang sumpit Anda dengan benar
Mudah sekali untuk dikatakan. Untuk orang yang benar-benar tidak terbiasa menggunakan sumpit, tentu ini merupakan pekerjaan yang cukup menyita waktu. Anda bisa melihat bagaimana orang lain menggunakan sumpit dan belajar darinya. Perbanyak latihan misalnya ketika Anda makan di rumah.
2.Jangan makan langsung dari piring yang sama
 Ambil makanan dari piring yang dipakai bersama (piring yang berisi lauk atau sayur) lalu tempatkan di piring Anda sendiri atau mangkuk sebelum memakannya. Jika Anda ingin memberikan makanan yang terdapat pada piring yang dipakai bersama pada orang lain, Anda bisa membalikkan ujung sumpit ketika hendak memberikan makanan pada orang lain. Hal ini dapat diterima jika tidak ada sumpit yang bisa dipakai bersama.
3.Gunakan dudukan sumpit
Anda Banyak restoran Jepang akan memberikan dudukan sumpit. Bila Anda sedang tidak menggunakan sumpit, tempatkan pada dudukan yang disediakan. Pada sumpit sekali pakai (waribashi), Anda tidak akan diberikan dudukan. Namun, Anda dapat menggunakan bungkus sumpit sebagai dudukan. Sumpit tidak boleh ditempatkan tegak di nasi karena hal ini menyerupai upacara yang dilakukan saat pemakaman di Jepang
4.Jangan melayangkan sumpit
Anda Jangan menggerak-gerakan (hover) sumpit Anda ke atas semua hidangan ketika berpikir apa yang Anda inginkan. Hal ini dianggap serakah (sashi bashi).
5.Jangan menggali Ambil makanan mulai dari atas piring. Jangan menggali
makanan di piring seperti sedang mencari sesuat
6.Jangan menjilat Jangan menjilat ujung sumpit (Neburi bashi).
7.Hati-hati memberikan makanan kepada orang lain
 Jangan pernah berbagi makanan dari sumpit ke sumpit karena ini menyerupai kebiasaan pada acara pemakaman di Jepang saat kremasi ketika tulang dipindahkan ke guci. Hanya di pemakaman, tulang dari tubuh dikremasi dan diberikan dari orang ke orang. Anda dapat memindahkan makanan menggunakan sumpit Anda ke piring orang lain, tetapi pastikan agar mereka mendekatkan piring untuk Anda jika terdapat jaraK. Idealnya Anda dapat meminta sepasang sumpit baru yang ditempatkan di tengah meja dan digunakan setiap kali seseorang perlu untuk memindahkan makanan untuk orang lain.
8.Sumpit bukan mainan
 Jangan menunjuk dengan sumpit ketika Anda berbicara atau memegang sumpit untuk waktu yang lama ketika tidak sedang makan. Jangan pernah menggosok sumpit berulang- ulang secara bersamaan setelah Anda memisahkannya karena merupakan tanda bahwa Anda berpikir itu adalah sumpit murah.
9.Jangan menyilangkan sumpit
ketika menaruhnya di meja Pastikan tempatkan sumpit Anda pada posisi sejajar.
10.Jangan memutar-mutar sumpit Anda ke dalam sup Ketika Anda melakukan ini, Anda terlihat sedang membersihkan sumpit Anda. Sopan santun menggunakan sumpit bisa berbeda dari budaya ke budaya misalnya saja Cina dan Korea. Pada tata cara di Korea, mengambil sebuah piring atau mangkuk untuk membawanya lebih dekat ke mulut seseorang, dan makan isinya dengan sumpit (kecuali hidangan mie tertentu seperti Naengmyeon ) dianggap sebagai budaya kasar yang tentu sangat kontras dengan di Cina dan Jepang. Contoh lainnya, orang- orang di Korea secara tradisional akan menggunakan sumpit untuk mengambil lauk dan meletakkannya di atas meja, kemudian memakannya dengan sendok makan. 
Sumber : japan-talk
Hachiman.

Senin, 29 September 2014

Pelajaran dari Sang Kakek



Pagi itu klinik sangat sibuk. Sekitar jam 9:30 seorang kakek berusia 70-an datang untuk membuka jahitan pada luka di ibu-jarinya. Saya menyiapkan berkasnya dan memintanya menunggu, sebab semua dokter masih sibuk dan mungkin dia baru dapat ditangani setidaknya 1 jam lagi. Sewaktu menunggu, pria tua itu nampak gelisah, sebentar-sebentar melirik ke jam tangannya. Saya merasa kasihan, jadi ketika sedang luang saya sempatkan untuk memeriksa lukanya. Nampaknya cukup baik, sudah kering dan tinggal membuka jahitan dan memasang perban baru. Pekerjaan yang tidak terlalu sulit, sehingga atas persetujuan dokter, saya putuskan untuk melakukannya sendiri.
Sambil menangani lukanya, saya bertanya apakah dia punya janji lain hingga tampak terburu-buru. Lelaki tua itu menjawab tidak, dia hendak ke rumah jompo untuk makan siang bersama istrinya, seperti yang dilakukannya sehari-hari. Dia menceritakan bahwa istrinya sudah dirawat disana sejak beberapa waktu dan istrinya mengidap Alzheimer (penyakit lemah ingatan).
Iseng saya bertanya, “Apakah nenek akan marah, bila satu hari saja kakek tidak datang?” 
Kakek menggeleng lemah, “Sudah 5 tahun sejak masuk panti, nenek tidak ingat lagi siapa kakek..”, guman kakek pelan.
Saya sangat terkejut dan berkata, “Lalu kenapa kakek tidak pernah absen menemani nenek sarapan setiap pagi?”.
Kakek tersenyum, lalu menggenggam hangat tangan saya seraya berkata, “Nenek memang tidak kenal lagi siapa kakek, tapi kakek masih mengenal nenek dengan baik..”
Orang yang paling berbahagia tidaklah harus memiliki segala sesuatu yang terbaik, melainkan mereka dapat berbuat yang terbaik dengan apa yang mereka miliki.

Selasa, 23 September 2014

TOKI WO KIZAMU UTA

Vocals              : LiaLyrics               : Maeda Jun

ochite iku suna dokei bakari miteru yo 
sakasama ni sureba hora mata hajimaru yo 
kizanda dake susumu jikan ni 
itsuka boku mo haireru kana 

kimi dake ga sugisatta saka no tochuu ha 
atataka na hidamari ga ikutsu mo dekiteta 
boku hitori ga koko de yasashii 
atataka sa wo omoi kaeshiteru 

kimi dake wo kimi dake wo 
suki de ita yo 
kaze de me ga nijinde 
tooku naru yo 

itsumademo oboeteru 
nanimo kamo kawattemo 
hitotsu dake hitotsu dake 
arifureta mono dakedo 
misete yaru kagayaki ni michita sono hitotsu dake 
itsumademo itsumademo mamotte iku 

hada samui hi ga tsudzuku mou haru nanoni 
mesamashi dokei yori hayaku okita asa 
saninbun no asa gohan wo tsukuru kimi ga 
soko ni tatte iru 

kimi dake ga kimi dake ga 
soba ni inai yo 
kinou made sugu soba de boku wo miteta yo 

kimi dake wo kimi dake wo 
suki de ita yo 
kimi dake to kimi dake to 
utau uta dayo 
boku tachi no boku tachi no 
kizanda toki dayo 
katahou dake tsudzuku nante 
boku ha iyada yo 

itsumade mo oboeteru 
kono machi ga kawattemo 
dore dake no kanashimi to deau koto ni nattemo 
misete yaru honto ha tsuyokatta toki no koto 
saa iku yo arukidasu saka no michi wo

Senin, 22 September 2014

TERUTERUBOUZU

Teru teru bouzu? Tentunya bagi kamu yang menyukai bahasa Jepang dan termasuk budayanya, apalagi untuk kalangan Otaku, bukan hal yang asing kan dengan kata tersebut? :)