Pages

Senin, 29 September 2014

Pelajaran dari Sang Kakek



Pagi itu klinik sangat sibuk. Sekitar jam 9:30 seorang kakek berusia 70-an datang untuk membuka jahitan pada luka di ibu-jarinya. Saya menyiapkan berkasnya dan memintanya menunggu, sebab semua dokter masih sibuk dan mungkin dia baru dapat ditangani setidaknya 1 jam lagi. Sewaktu menunggu, pria tua itu nampak gelisah, sebentar-sebentar melirik ke jam tangannya. Saya merasa kasihan, jadi ketika sedang luang saya sempatkan untuk memeriksa lukanya. Nampaknya cukup baik, sudah kering dan tinggal membuka jahitan dan memasang perban baru. Pekerjaan yang tidak terlalu sulit, sehingga atas persetujuan dokter, saya putuskan untuk melakukannya sendiri.
Sambil menangani lukanya, saya bertanya apakah dia punya janji lain hingga tampak terburu-buru. Lelaki tua itu menjawab tidak, dia hendak ke rumah jompo untuk makan siang bersama istrinya, seperti yang dilakukannya sehari-hari. Dia menceritakan bahwa istrinya sudah dirawat disana sejak beberapa waktu dan istrinya mengidap Alzheimer (penyakit lemah ingatan).
Iseng saya bertanya, “Apakah nenek akan marah, bila satu hari saja kakek tidak datang?” 
Kakek menggeleng lemah, “Sudah 5 tahun sejak masuk panti, nenek tidak ingat lagi siapa kakek..”, guman kakek pelan.
Saya sangat terkejut dan berkata, “Lalu kenapa kakek tidak pernah absen menemani nenek sarapan setiap pagi?”.
Kakek tersenyum, lalu menggenggam hangat tangan saya seraya berkata, “Nenek memang tidak kenal lagi siapa kakek, tapi kakek masih mengenal nenek dengan baik..”
Orang yang paling berbahagia tidaklah harus memiliki segala sesuatu yang terbaik, melainkan mereka dapat berbuat yang terbaik dengan apa yang mereka miliki.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar