Bukan pilihan mudah menjadi penulis cerpen atau cerbung, dari
banyaknya kalimat hanya beberapa kata yang mendapat pujian selebihnya
sampah. Banyaknya ide usang yang sengaja ku pendam rapat memang terlihat
bodoh di tengah malam saat hujan deras mengguyur ibukota jakarta. Aku
masih terjaga dengan jari-jari yang mulai letih dan mata yang
sayup-sayup terbakar kantuk yang luar biasa. Berharap aku mampu melukis
kembali kenangan itu. Bercerita panjang pada sahabat dan teman, walau
hanya lewat dunia maya. Aku tahu mereka tak akan pernah sadar dan
mengerti apa arti cinta tanpa sebuah pengalaman dan perjalanan panjang
yang mengajarkan aku betapa pahit.. Manis… Dan senangnya aku
mencintaimu.. Bukan alasan indah atau sekedar manis bualan
Selasa, 21 Oktober 2014
Believe Me, I Love You
Aku percaya mimpi aku percaya takdir aku percaya cinta sejati dan aku
percaya akan adanya akhir yang bahagia. Aku hanyalah gadis lugu yang
berubah akan bergulirnya waktu karena setiap fakta yang ku alami
bertentangan dengan semua yang kupercaya dan akhirnya kini aku adalah
pembenci semua omong kosong itu.
Last Firework’s Festival
Sehari sebelum festival kembang api, aku dan pacarku, Arata, sibuk
memilih Yukata yang serasi untuk kami. Festival kembang api tahun ini
adalah yang terbaik. Aku sangat mengharapkan momen seperti ini. Apalagi,
Arata cuma pasrah dengan apa yang aku lakukan. Biasanya dia
memberontak.
Kisah Sadako
Sadako Sasaki lahir 7 Januari 1943; hidupnya yang singkat berakhir
pada 25 Oktober 1955. Ketika ia berusia dua tahun, sebuah bom atom
dijatuhkan oleh Amerika Serikat di Hiroshima, Jepang. Sadako
tinggal dekat Misasa Bridge di Hiroshima tempat bom dijatuhkan pada
tanggal 6 Agustus 1945. Saat itu dia tak tahu bahwa dirinya telah
menjadi korban radiasi pasca pemboman.
Selasa, 07 Oktober 2014
SERBA SERBI KARAKTER ORANG JEPANG
1. Kesadaran Kelompok dan Kerja Keras
Pada umumnya orang sering menyebutkan bahwa orang Jepang suka bekerja keras, suka berkelompok, dan sebagainya. Begitu asyik dengan pekerjaannya sehingga orang Jepang suka lupa waktu. Di perusahaan-perusahaan kurang terdengar suara keberatan untuk kerja lembur. Hal tersebut didorong oleh rasa tanggung jawab dan semangat kelompok. Orang Jepang pada umumnya cenderung kuat rasa keterikatannya terhadap kelompok di mana dia berada, terutama perusahaan tempat kerjanya. Bilamana perusahaannya menghadapi masalah atau tugas yang mendesak dan harus segera dituntaskan, maka para karyawan merasa terpanggil untuk ikut memikul beban kerja bersama-sama, dengan mengesampingkan kepentingan dan kesenangan pribadinya.
Langganan:
Postingan (Atom)